Perkembangan BI-Rate Mei 2026:
1. BI-Rate naik 50 bps menjadi 5,25% pada RDG Mei 2026, dengan suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25% dan Lending Facility naik menjadi 6,00%. Kenaikan ini terutama ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1% hingga 2027.
2. Kenaikan BI-Rate dilakukan di tengah tekanan terhadap Rupiah. Rupiah terdepresiasi sekitar 2,0% MtD menjadi Rp17.705/USD pada 19 Mei 2026, dipengaruhi faktor musiman permintaan valas untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, dan kebutuhan ibadah haji. Namun, aliran modal asing mulai kembali masuk pada Mei 2026, baik pada pasar saham maupun SBN.
3. Bank Indonesia meningkatkan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi dan penyesuaian instrumen moneter. Intervensi dilakukan melalui spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic NDF (DNDF). Cadangan devisa turun sebesar USD2,0 miliar menjadi USD146,2 miliar pada April 2026, atau setara 5,8 bulan impor. BI juga menaikkan suku bunga SRBI untuk menarik capital inflow dan menurunkan batas pembelian USD tanpa underlying menjadi USD25.000 mulai Juni 2026.
4. Suku bunga pasar uang dan suku bunga kredit masih dalam tren penurunan, sementara imbal hasil SBN dan SRBI meningkat untuk menarik inflow. Suku bunga PUAB ON turun menjadi 4,60% pada 19 Mei 2026, mengindikasikan likuiditas perbankan masih memadai. Namun, suku bunga SRBI 12 bulan naik menjadi 6,45%. Yield SBN tenor pendek juga naik, sementara yield SBN 10 tahun turun menjadi 6,78%, sehingga kurva yield SBN mengalami flattening.
5. Kredit bank umum meningkat menjadi 9,98% YoY pada April 2026, naik dari 9,49% YoY pada Maret 2026. Peningkatan ini terutama didorong oleh masih tingginya pertumbuhan kredit investasi serta peningkatan kredit modal kerja dan kredit konsumsi. Suku bunga kredit juga masih turun menjadi 8,73% pada April 2026, sejalan dengan upaya BI menjaga transmisi kebijakan ke sektor riil.
6. Likuiditas perbankan tetap memadai untuk mendukung penyaluran kredit. Rasio AL/DPK masih tinggi sebesar 25,4% pada April 2026. BI juga memperkuat dukungan likuiditas melalui pelonggaran RIM dan KLM untuk meningkatkan kapasitas perbankan dalam menyalurkan kredit dan menahan kenaikan suku bunga kredit di tengah naiknya BI-Rate.
7. Ke depan, kebijakan moneter diprakirakan tetap pro-stability. BI diprakirakan tetap fokus menjaga stabilitas Rupiah melalui suku bunga kebijakan, intervensi valas, dan instrumen moneter. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial tetap diarahkan longgar untuk menahan kenaikan suku bunga kredit dan mendukung pertumbuhan ekonomi.