- Secara mingguan (WtW), harga cenderung meningkat dengan kenaikan tertinggi pada cabai yang naik antara 6,2% - 6,8%.
- Secara bulanan (MtM), harga hortikultura beragam, cabai rawit menurun (-18,9%) akibat panen raya dan perbaikan pasokan, sementara cabai merah naik (11,5%) akibat cuaca kurang baik dan kurangnya pasokan.
- Secara year-to-date (YtD), tekanan harga terakumulasi pada minyak goreng (curah: +9,5%; kemasan: +5,8% – 6,7%).
- Secara tahunan (YoY), tekanan harga terbesar pada daging ayam (+10,8%), minyak goreng curah (+9,8%), dan bawang merah (+9,3%).
- Tekanan harga minyak goreng terus dipengaruhi kenaikan harga CPO dan minyak global akibat konflik Timur Tengah, serta kenaikan biaya kemasan (plastik) akibat gangguan pasokan nafta.
- Harga pangan global naik tiga bulan berturut-turut hingga April akibat kenaikan harga energi dan konflik di Selat Hormuz.
- Inflasi pangan Indonesia pada April 2026 terkendali dan mengalami deflasi pasca-Ramadan dan Idulfitri akibat normalisasi permintaan.
3. Perkembangan Spasial
- Tekanan harga tertinggi terjadi di Sulawesi Tenggara, khususnya cabai merah (+40,89% WtW), dipengaruhi hujan deras dan banjir yang berimbas ke gagal panen di beberapa wilayah.
4. Implikasi Kebijakan
- Memasuki musim giling tebu pada Mei 2026, Bapanas berkolaborasi dengan Asosiasi Pengusaha Gula Indonesia (APGI) untuk menstabilkan harga gula konsumsi yang berfluktuasi pada April.
- Bapanas mendorong intensifikasi bantuan pangan dengan beras fortifikasi menggunakan data Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) untuk menetapkan sasaran secara presisi hingga wilayah terkecil.
- Perlu penguatan ketahanan rantai pasok, terutama untuk komoditas yang bergantung pada input global, seperti pakan ternak, pupuk, serta bahan baku plastik kemasan pangan.
- Perlu penguatan irigasi, optimalisasi stok cadangan pangan, dan sistem peringatan dini berbasis data untuk mitigasi potensi dampak fenomena El Nino.