Background
Buletin Mingguan Apr 27, 2026

Weekly Newsletter Minggu IV April 2026

Author

Tenaga Profesional

Dewan Ekonomi Nasional

Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran mengalami eskalasi, dengan penyitaan kapal tanker Iran dan kegagalan negosiasi, yang memicu kenaikan harga minyak Brent hingga mencapai USD 106/barel (naik 71,8% YtD). Di tengah tekanan energi, ekonomi AS menunjukkan resiliensi dengan penjualan ritel tumbuh 4,0% YoY (Maret 2026) dan indeks PMI yang menguat ke level ekspansif 52,0 pada April 2026.

Di sisi lain, sektor keuangan Tiongkok mencatatkan ekspansi sebesar 6,5% YoY pada  Tw I 2026, didorong oleh aktivitas IPO yang kuat. Namun, Tiongkok masih menghadapi tantangan struktural berupa kontraksi investasi asing langsung (FDI) sebesar 7,3% YoY serta pelemahan di sektor konstruksi (kontraksi menjadi 3,8% YoY). Sementara itu, tren integrasi ekonomi di Asia Tenggara dan Selatan semakin kuat, tercermin dari penguatan kemitraan strategis antara Korea Selatan dengan India dan Vietnam, terutama pada sektor teknologi nuklir, inovasi, dan pertahanan.

Kinerja investasi Indonesia mencatatkan kenaikan pada Tw I 2026 dengan realisasi sebesar Rp498,79 triliun (naik 7,22% YoY), di mana Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh 8,5% YoY. Sektor hilirisasi tetap menjadi motor utama dengan kontribusi 29,6% dari total investasi, yang mayoritas (75,5%) tersebar di luar Pulau Jawa. Kepercayaan investor global terjaga dengan sinyal peringkat utang dari S&P pada level investment grade (BBB).

Dari sisi kebijakan sektoral dan moneter, pemerintah menaikkan harga LPG non-subsidi (rata-rata naik 18,8% nominal) dan berencana menghentikan impor solar per 1 Juli 2026 melalui mandatori B50. Meskipun ada penyesuaian harga energi, dampak inflasi diperkirakan tetap rendah (sekitar 0,03% - 0,04%). Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang mengalami depresiasi sebesar 0,52% WtW ke level Rp17.278/USD. Likuiditas dan penyaluran kredit tetap ekspansif, di mana kredit investasi tumbuh tinggi sebesar 20,85% YoY, sejalan dengan pertumbuhan uang beredar (M2) yang meningkat menjadi 9,7% YoY.

Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran di bawah ini. 

Bagikan