Background
Buletin Mingguan May 04, 2026

Weekly Newsletter Minggu V April 2026

Author

Tenaga Profesional

Dewan Ekonomi Nasional

Ketegangan di Selat Hormuz yang memasuki bulan ketiga telah memicu volatilitas ekstrem pada harga komoditas global. Harga minyak Brent sempat menyentuh USD 126/barel sebelum terkoreksi ke level USD 112/barel. Kondisi ini mempersempit ruang fiskal akibat meningkatnya alokasi subsidi energi. Di sisi lain, ekonomi AS menunjukkan resiliensi dengan pertumbuhan 2,7% YoY pada Tw I 2026, yang didorong oleh investasi sektor AI. Namun, tekanan inflasi meningkat dengan inflasi PCE AS mencapai 3,5% YoY pada Maret 2026, sehingga The Fed tetap mempertahankan Fed Fund Rate (FFR) pada rentang 3,50% - 3,75%.

Di Tiongkok, laba perusahaan industri naik menjadi 15,8% YoY pada Maret 2026, didorong oleh sektor pertambangan pasca berakhirnya periode deflasi harga produsen. Meski demikian, PMI non-manufaktur Tiongkok terkontraksi ke level 49,4, mengindikasikan permintaan domestik yang masih lemah. Secara global, terjadi fragmentasi pasar energi dengan Uni Arab Emirates (UAE) memutuskan keluar dari OPEC pada 1 Mei 2026, yang berpotensi mengubah peta suplai minyak mentah dunia. World Bank memproyeksikan indeks harga energi global naik 24% dan harga pupuk naik 31% di sepanjang tahun 2026. Sejalan dengan kenaikan harga BBM, penjualan kendaraan listrik (EV) global meningkat 2% YoY pada Maret 2026, di mana ekspor EV dari Tiongkok mencatatkan rekor kenaikan hingga 140% YoY.

Ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh kuat sebesar 5,4% YoY pada Tw I 2026, didukung oleh pola belanja pemerintah yang lebih terukur. Inflasi IHK diprakirakan melandai ke level 2,7% YoY pada April 2026 seiring berakhirnya low base effect tarif listrik. Sektor investasi terus menjadi tumpuan pertumbuhan dengan Presiden Prabowo meresmikan groundbreaking 13 proyek hilirisasi Fase II senilai Rp116 triliun, serta mengalokasikan Rp4 triliun untuk standarisasi keselamatan infrastruktur kereta api di Jawa.

Dari sisi stabilitas keuangan, pemerintah menyerap Rp40 triliun dari lelang SUN pada akhir April 2026 dengan yield seri 10 tahun (FR0108) berada di level 6,81. Kenaikan yield ini mencerminkan dinamika arus modal keluar (capital outflow) dari pasar SBN sebesar Rp17 triliun YtD. Dari pasar tenaga kerja, sektor industri menghadapi tantangan efisiensi, salah satunya rencana PHK massal oleh PT Toba Pulp Lestari terhadap 80% karyawannya. Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja menurun ke 107,8 pada Maret 2026. Pemerintah merespons melalui Satgas PHK dan peningkatan manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) sebesar 60% dari upah guna menjaga bantalan sosial ekonomi.

Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran di bawah ini. 

Bagikan