Information Background
Siaran Pers May 12, 2026

Wakil Ketua DEN Terima Penghargaan Bintang Jasa Kekaisaran Jepang, Tegaskan Komitmen Kemitraan Strategis Berkelanjutan

Tokyo, 12 Mei 2026 – Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Prof. Mari Elka Pangestu, secara resmi menerima tanda kehormatan tingkat tinggi Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star langsung dari Kaisar Jepang dalam upacara kenegaraan di Istana Kekaisaran, Tokyo, pada Selasa (12/5).

Penghargaan bergengsi ini dianugerahkan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi dan proses panjang Mari Elka dalam membangun fondasi kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, dan pariwisata yang solid antara Indonesia dan Jepang.

Order of the Rising Sun (Kunshō) merupakan tanda jasa nasional prestisius dari Kaisar Jepang, di mana Gold and Silver Star menempati kelas kedua tertinggi dari enam tingkatan yang ada. Penganugerahan ini merepresentasikan jejak langkah strategis saat ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan (2004-2011), di mana ia memimpin dan menuntaskan negosiasi Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Perjanjian yang ditandatangani pada Agustus 2007 dan berlaku efektif pada Juli 2008 ini menjadi tonggak sejarah sebagai perjanjian kemitraan ekonomi bilateral pertama bagi Indonesia.

“Hubungan antara Jepang dan Indonesia sangat strategis. Jepang adalah mitra yang memiliki hubungan panjang dengan Indonesia, dimulai saat Indonesia memulai proses pembangunannya pada tahun 1970-an dan 1980-an, dan semakin erat setelah adanya IJEPA dan perjanjian ASEAN-Jepang. Saya sangat berharap, dengan ratifikasi dan implementasi Protokol Perbaikan IJEPA yang hampir rampung, Indonesia dan Jepang akan mencapai tingkat kemitraan yang lebih dalam, lebih luas, dan saling menguntungkan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian dunia saat ini,” ujar Mari Elka.

Sejak awal proses perumusannya, IJEPA diletakkan pada nilai-nilai kesetaraan dan kemitraan yang sesungguhnya (true partnership), bukan sekadar instrumen perdagangan konvensional. IJEPA ditopang oleh tiga pilar utama: liberalisasi perdagangan, fasilitasi perdagangan dan investasi, serta kerja sama pembangunan kapasitas (capacity building).

Pilar pembangunan kapasitas inilah yang menjadi terobosan nilai dari pihak Indonesia. Menyadari adanya asimetri kapasitas ekonomi dan industri pada saat itu, proses negosiasi diarahkan agar Jepang turut berkontribusi dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia dan industri domestik. Pendekatan berbasis nilai dan proses ini memastikan bahwa manfaat kemitraan dapat dirasakan secara inklusif dan nyata oleh kedua belah pihak. Model ini kemudian menjadi rujukan (benchmark) bagi Indonesia dalam menyusun berbagai perjanjian internasional berikutnya.

Implementasi IJEPA telah menghasilkan capaian yang konkret. Melalui program Manufacturing Industry Development Center (MIDEC) dan User Specific Duty Free Scheme, sektor manufaktur nasional difasilitasi untuk mendapatkan transfer teknologi dan efisiensi bahan baku. Selain itu, IJEPA merintis pembukaan akses pasar profesional (Movement of Natural Persons). Hingga kini, lebih dari 15.000 perawat dan tenaga perawat lansia (caregiver) asal Indonesia telah terserap bekerja di Jepang dengan tingkat apresiasi yang tinggi atas etos kerja mereka.

Kemitraan yang terstruktur ini terbukti mendorong eskalasi perekonomian bilateral. Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke Jepang menyentuh angka USD 17,6 miliar, dengan total perdagangan bilateral mencapai USD 32,1 miliar—mencatatkan surplus bagi Indonesia. Di sektor investasi, modal Jepang masuk secara kumulatif sebesar USD 17,1 miliar selama periode 2021-2025. Aliran modal ini diarahkan untuk memperkuat sektor krusial, mulai dari ekspansi manufaktur otomotif, pembangunan infrastruktur strategis seperti MRT Jakarta, hingga penguatan sektor jasa keuangan.

Upaya merajut hubungan bilateral ini juga terus ia lanjutkan di berbagai sektor. Saat memegang amanah sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2011-2014), ia turut merintis kerja sama strategis di industri kreatif, khususnya pada ekosistem animasi, gaming, dan film.

Saat ini, di samping mengemban tugas sebagai Wakil Ketua DEN, Mari Elka juga dipercaya oleh pemerintah sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral. Dedikasinya di panggung global juga terwujud saat ia menjabat sebagai Managing Director of Development Policy and Partnerships di Bank Dunia (2020-2023).

Bagikan

Ketuk untuk bagikan di media sosial