Economic Brief Sep 04, 2026

Laporan Inflasi Bulan September 2026

Laporan Inflasi Bulan September 2026

Authors

Kurniawati Yuli Ashari

Advisor

Gaffari Ramadhan

Executive Director for Economic Strategy and Policy

Artstein Dhimathera

Analyst

Amanda A. Joesoef

Junior Advisor

1. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 3,19% YoY pada Agustus 2026, dari 2,88% YoY pada Juli 2026, dan masih berada pada rentang target 2,5%±1%.

2. Naiknya inflasi pada Agustus didorong oleh meningkatnya harga beberapa komoditas pangan akibat kenaikan permintaan selama Agustus 2026 dan kendala produksi beberapa komoditas hortikultura. Selain itu, kenaikan inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas global.

  • Inflasi komponen bergejolak (Volatile Food (VF)) meningkat menjadi 4,06% YoY dari 2,52% YoY, seiring meningkatnya tekanan harga pada beberapa komoditas pangan, antara lain akibat El Niño. Kenaikan VF juga didorong oleh naiknya harga daging ayam ras (12,2% YoY) seiring akibat naiknya permintaan seiring kembalinya aktivitas sekolah dan program MBG.
  • Inflasi inti (Core) naik menjadi 2,92% YoY pada Agustus 2026 dari 2,76% YoY pada bulan Juli 2026, didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan dan harga minyak goreng. Kenaikan harga emas perhiasan terindikasi dari harga emas Antam yang naik sekitar 38,9% YoY. Sementara itu, harga minyak goreng meningkat sekitar 7,6% YoY.
  • Inflasi komponen harga diatur Pemerintah (Administered Price (AP)) turun menjadi 3,32% YoY pada Agustus 2026 dari 3,58% YoY pada Juli 2026, sejalan dengan turunnya harga BBM nonsubsidi, antara lain Pertamax (2% MtM) dan Pertamax Turbo (5% MtM) pada Agustus 2026. Pemerintah juga menurunkan biaya tambahan (fuel surcharge) tiket pesawat rute domestik menjadi maksimal 30% dari tarif batas atas seiring dengan penurunan harga avtur.


3. Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Provinsi Maluku Utara.

  • Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Maluku Utara, sebesar 5,28% YoY yang didorong oleh inflasi sektor transportasi dan sektor makanan, minuman, dan tembakau.
  • Daerah yang mengalami bencana kebakaran, antara lain Kalimantan Tengah dan Nusa Tenggara Barat mengalami inflasi yang cukup tinggi, masing-masing sebesar 4,96% YoY dan 4,03% YoY.


4. Naiknya harga impor berdampak pada kenaikan harga di level pedagang besar.

  • Inflasi Indeks Harga Impor (IHM) tercatat sebesar 25,45% YoY pada Tw. II 2026, lebih tinggi dibandingkan 9,97% YoY pada Tw. I 2026. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh naiknya harga barang modal dan bahan baku/penolong. Tekanan harga di level pedagang besar sejak April 2026 terindikasi turut disebabkan oleh naiknya harga impor.
  • Inflasi Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) naik menjadi 6,18% YoY pada Agustus 2026, dari 5,66% YoY pada Juli 2026. Inflasi IHPB kelompok Bangunan/Konstruksi juga naik menjadi 9,52% YoY, terutama didorong oleh aspal, baja tulangan (besi beton), semen, pasir, dan batu pecahan.
  • Inflasi pada level pedagang besar berpotensi mendorong kenaikan harga konsumen dan menekan marjin keuntungan pedagang.


5. Ke depan, potensi dampak El Niño terhadap inflasi perlu diantisipasi.

  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan jumlah wilayah Indonesia dengan curah hujan kategori rendah (0-100 mm per bulan) mencapai 75,1% pada September 2026.
  • Badan Pusat Statistik memprakirakan produksi beras pada periode Agustus hingga Oktober 2026 turun 0,9% YoY atau sekitar 0,1 juta ton.
  • El Niño diprakirakan berlangsung hingga awal tahun 2027, menjelang periode Ramadan dan Idulfitri dengan intensitas yang menurun. Potensi berkurangnya produksi tanaman pangan akibat curah hujan rendah, termasuk bencana alam seperti kekeringan dan kebakaran hutan, berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi.
  • Harga komoditas global yang masih tinggi saat ini juga berpotensi meningkatkan tekanan pada inflasi. Harga komoditas global yang masih tinggi, antara lain tertransmisi ke inflasi domestik melalui harga BBM nonsubsidi.
  • Bapanas menyiapkan mitigasi menghadapi El Niño dengan penguatan dan penyaluran stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). CBP saat ini cukup tinggi, mencapai 5,1 juta ton per 25 Agustus 2026.
  • Kebijakan moneter Bank Indonesia tetap diarahkan untuk menjaga inflasi pada sasaran 2,5%±1% hingga 2027. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Agustus memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%.

Share