Background
Ringkasan Ekonomi May 18, 2026

Pemantauan Harga Pangan Minggu Ke-1 Mei 2026

Author

Luthfi Ridho

Tenaga Ahli Utama

1. Perkembangan Harga Pangan
  • Secara mingguan (WtW), harga cenderung meningkat dengan kenaikan tertinggi pada cabai yang naik antara 4,1% - 7,6%.
  • Secara bulanan (MtM), harga hortikultura beragam, cabai rawit menurun (-10,3%) akibat perbaikan pasokan dan distribusi, sementara cabai merah naik (18,2%) akibat peningkatan permintaan menjelang Lebaran Idul Adha.
  • Secara year-to-date (YtD), tekanan harga terakumulasi pada minyak goreng (curah: +9,3%; kemasan: +6,0% – 7,0%).
  • Secara tahunan (YoY), tekanan harga terbesar pada bawang merah (+14,5%), cabai rawit (+14,3%), dan daging ayam (+11,6%).

2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga
  • Tekanan harga minyak goreng terus dipengaruhi kenaikan harga CPO dan minyak global akibat konflik Timur Tengah, serta kenaikan biaya kemasan (plastik) akibat gangguan pasokan nafta.
  • BPS melaporkan per minggu pertama Mei 2026 terjadi pergerakan positif Indeks Perkembangan Harga (IPH) pangan pokok strategis, dengan 15 provinsi mengalami kenaikan dan 23 provinsi mengalami penurunan.
  • Menjelang HBKN Idul Adha, perlu diperhatikan peningkatan harga beberapa komoditas utama seperti daging sapi, cabai, dan minyak goreng yang cenderung mengalami peningkatan permintaan.

3. Perkembangan Spasial
  • Secara spasial, tekanan harga paling tinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Timur, yang mengalami peningkatan harga pada 5 komoditas. Tekanan harga secara spasial tidak merata antar wilayah. Kenaikan tersebut disebabkan oleh penyesuaian harga BBM solar yang mendongkrak biaya logistik dan distribusi.
  • Sementara Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat kenaikan harga tertinggi, khususnya pada komoditas cabai merah yang meningkat sebesar 43,84%, dipengaruhi oleh hujan deras yang memicu banjir besar, yang menyebabkan gagal panen di beberapa wilayah.

4. Implikasi Kebijakan
  • BPS mencatat produksi jagung nasional tahun 2025 mencapai 16,16 juta ton atau naik 6,74%, dan memproyeksikan surplus jagung sebesar 5,73 juta ton pada tahun 2026.
  • Bapanas mulai menyalurkan program SPHP Jagung di Jawa Tengah sebanyak 116 ton kepada peternak mandiri di Kota Semarang dengan harga maksimal Rp5.500 per kg, sebagai respons terhadap kenaikan harga jagung di tingkat peternak yang mencapai Rp6.000–Rp6.600 per kg
  • Asia terancam El Nino kuat (Mei–Juli 2026), diperparah penutupan Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi, sehingga sektor pertanian terancam inflasi pangan akibat kekeringan, kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar.

Bagikan