1. Perkembangan Harga Pangan
• Secara mingguan (WtW), harga relatif stabil dengan kenaikan terbatas pada minyak goreng yang naik antara 0,4% - 0,6%.
• Secara bulanan (MtM), harga hortikultura turun signifikan, terutama cabai rawit (-26,5%) dan cabai merah (-1,4%) akibat panen raya dan perbaikan pasokan
• Secara year-to-date (YtD), tekanan harga terakumulasi pada minyak goreng (curah: +9,0%; kemasan: +5,8% – 6,0%).
• Secara tahunan (YoY), tekanan harga terbesar pada kelompok protein, khususnya daging ayam (+12,2%), telur ayam (+4,7%), serta daging sapi (+5,7%).
2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga
• Tekanan harga minyak goreng terus dipengaruhi kenaikan harga CPO dan minyak global akibat konflik Timur Tengah, serta kenaikan biaya kemasan (plastik) akibat gangguan pasokan nafta.
• Pelemahan nilai tukar mendorong peningkatan biaya logistik untuk impor daging sapi.
• Penurunan harga hortikultura didorong panen raya dan normalisasi permintaan pasca HBKN, namun berisiko menekan harga di tingkat petani.
• Kenaikan biaya kemasan plastik mendorong peningkatan harga minyak goreng.
• Stok beras tetap kuat (CBP 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah) sehingga menjaga stabilitas harga beras.
3. Perkembangan Spasial
• Tekanan harga tertinggi terjadi di Kepulauan Riau, khususnya cabai merah (+22,91% WtW), dipengaruhi faktor cuaca dan distribusi.
4. Implikasi Kebijakan
• Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk antisipasi fluktuasi harga pakan ternak
• Operasi pasar tetap diperlukan dengan targeting yang lebih tepat.
• Perlu penguatan ketahanan rantai pasok, terutama untuk komoditas yang bergantung pada input global, seperti pakan ternak, pupuk, serta bahan baku plastik kemasan pangan.
• Perlu penguatan irigasi, optimalisasi stok cadangan pangan, dan sistem peringatan dini berbasis data untuk mitigasi potensi dampak fenomena El Nino.