1. Inflasi IHK naik menjadi 3,28% YoY pada September 2026 dari 3,19% YoY pada Agustus 2026, dan masih berada dalam rentang target 2,5%±1%.
2. Kenaikan inflasi didorong oleh naiknya harga pangan di tengah kemarau panjang akibat El Niño, serta tingginya harga komoditas global.
- Inflasi Volatile Food (VF) naik menjadi 5,03% YoY dari 4,06% YoY. Kenaikan ini didorong oleh daging ayam ras karena kebutuhan MBG dan naiknya harga pakan, cabai rawit karena produksi turun di sentra Jawa, beras, dan daging sapi.
- Inflasi inti (Core) turun menjadi 2,84% YoY dari 2,92% YoY, seiring melambatnya kenaikan harga emas: Antam naik 24,5% YoY (Agustus: 38,9%) dan emas global naik 17,7% YoY (Agustus: 31,0%) pada September 2026. Meski melambat, harga emas masih tinggi dan tetap menjadi penyumbang terbesar inflasi inti, diikuti minyak goreng.
- Inflasi Administered Price (AP) turun tipis menjadi 3,25% YoY dari 3,32% YoY, karena tarif angkutan udara turun saat low season. Penurunan ini mengimbangi kenaikan harga BBM nonsubsidi (Dexlite 20% MtM, Pertamina Dex 19% MtM) dan avtur (6,5% MtM).
3. Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara (7,59% YoY) dan terendah di Sumatera Selatan (2,55% YoY).
4. Tekanan harga di level pedagang besar meningkat. Inflasi IHPB naik menjadi 6,76% YoY dari 6,18% YoY, dan IHPB konstruksi mencapai 9,63% YoY. Kenaikan biaya ini berpotensi diteruskan ke harga konsumen.
5. Ke depan, dampak El Niño terhadap inflasi perlu diantisipasi.
- Proporsi standing crop padi turun menjadi 28,07% pada Agustus 2026, lebih rendah daripada saat El Niño 2023 (29,8%). Potensi produksi beras September–November 2026 diprakirakan turun 12,0% YoY (sekitar 1 juta ton), sementara harga beras di penggilingan telah naik 6,04% YoY.
- Harga BBM nonsubsidi per 1 Oktober 2026 tidak berubah, tetapi tetap berisiko naik mengikuti harga pasar.
- Stok CBP mencapai sekitar 4,6 juta ton per 16 September 2026, dan penyaluran beras SPHP mencapai 817 ribu ton.
- Indeks ENSO periode Juli–September mencapai +2,63, sedikit melampaui puncak El Niño 2015 (+2,6). DEN memperkirakan inflasi VF 2026 berada di kisaran 5,4–6,3% YoY.
- BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada RDG 22–23 September 2026.
2. Kenaikan inflasi didorong oleh naiknya harga pangan di tengah kemarau panjang akibat El Niño, serta tingginya harga komoditas global.
- Inflasi Volatile Food (VF) naik menjadi 5,03% YoY dari 4,06% YoY. Kenaikan ini didorong oleh daging ayam ras karena kebutuhan MBG dan naiknya harga pakan, cabai rawit karena produksi turun di sentra Jawa, beras, dan daging sapi.
- Inflasi inti (Core) turun menjadi 2,84% YoY dari 2,92% YoY, seiring melambatnya kenaikan harga emas: Antam naik 24,5% YoY (Agustus: 38,9%) dan emas global naik 17,7% YoY (Agustus: 31,0%) pada September 2026. Meski melambat, harga emas masih tinggi dan tetap menjadi penyumbang terbesar inflasi inti, diikuti minyak goreng.
- Inflasi Administered Price (AP) turun tipis menjadi 3,25% YoY dari 3,32% YoY, karena tarif angkutan udara turun saat low season. Penurunan ini mengimbangi kenaikan harga BBM nonsubsidi (Dexlite 20% MtM, Pertamina Dex 19% MtM) dan avtur (6,5% MtM).
3. Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara (7,59% YoY) dan terendah di Sumatera Selatan (2,55% YoY).
4. Tekanan harga di level pedagang besar meningkat. Inflasi IHPB naik menjadi 6,76% YoY dari 6,18% YoY, dan IHPB konstruksi mencapai 9,63% YoY. Kenaikan biaya ini berpotensi diteruskan ke harga konsumen.
5. Ke depan, dampak El Niño terhadap inflasi perlu diantisipasi.
- Proporsi standing crop padi turun menjadi 28,07% pada Agustus 2026, lebih rendah daripada saat El Niño 2023 (29,8%). Potensi produksi beras September–November 2026 diprakirakan turun 12,0% YoY (sekitar 1 juta ton), sementara harga beras di penggilingan telah naik 6,04% YoY.
- Harga BBM nonsubsidi per 1 Oktober 2026 tidak berubah, tetapi tetap berisiko naik mengikuti harga pasar.
- Stok CBP mencapai sekitar 4,6 juta ton per 16 September 2026, dan penyaluran beras SPHP mencapai 817 ribu ton.
- Indeks ENSO periode Juli–September mencapai +2,63, sedikit melampaui puncak El Niño 2015 (+2,6). DEN memperkirakan inflasi VF 2026 berada di kisaran 5,4–6,3% YoY.
- BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada RDG 22–23 September 2026.