Economic Brief Aug 18, 2026

Perkembangan Harga Pangan Minggu II Agustus 2026

Perkembangan Harga Pangan Minggu II Agustus 2026

Authors

Gaffari Ramadhan

Executive Director for Economic Strategy and Policy

Co-Authors

Ahmad Adi Nugroho

Tenaga Ahli Madya

Artstein Dhimathera

Tenaga Terampil

1. Perkembangan Harga Pangan

  • Secara bulanan (MtM), harga sebagian komoditas hortikultura menurun. Harga bawang merah turun sebesar 13,3% MtM dan bawang putih turun 9,1% MtM. Penurunan harga bawang merah disebabkan oleh panen di beberapa sentra produksi, sedangkan penurunan harga bawang putih didorong oleh realisasi impor selama Semester I 2026 yang mencapai 229,76 ribu ton.
  • Sementara, harga daging ayam meningkat sebesar 9,2% MtM, antara lain dipengaruhi permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) seiring berakhirnya periode libur sekolah.
  • Secara tahunan (YoY), tekanan harga terbesar terjadi pada daging ayam (+17,2%). Kenaikan harga daging ayam di beberapa daerah disebabkan oleh meningkatnya permintaan seiring aktifnya kembali Program MBG, serta di wilayah pesisir oleh peralihan konsumsi dari ikan ke ayam akibat cuaca buruk yang membatasi hasil tangkapan nelayan, sementara di sisi lain pasokan ayam terbatas dan biaya pakan mengalami kenaikan.
  • Di sisi lain, peningkatan harga juga terjadi pada cabai merah (5,7% YoY) dan cabai rawit (16,0% YoY).
  • Harga minyak goreng meningkat sebesar 9,3% YoY, didorong oleh masih tingginya harga CPO global sebesar 13,1% YoY.
  • Sementara, harga daging sapi tercatat meningkat sebesar 8,0% YoY. Meski meningkat secara MtM, Kementan melaporkan harga daging sapi di tingkat konsumen sudah melandai secara WtW pada minggu kedua Agustus 2026.

2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga

  • Dari sisi global, harga minyak mentah naik menjadi USD 85 per barel pada 18 Agustus 2026, seiring prospek perjanjian baru antara AS dan Iran kembali melemah.
  • Dari sisi domestik, BMKG melaporkan El Nino yang semakin kuat di tengah musim kemarau memperluas ancaman kekeringan di Indonesia.
  • Daging ayam menjadi pengecualian pola penurunan umum, didorong permintaan program MBG usai periode libur sekolah — pola ini konsisten di WtW maupun MtM.
  • Risiko ke depan tetap tinggi: Menurut Dasarian I Agustus 2026, BMKG melaporkan sebesar 90,79% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, sejalan dengan 76,5% wilayah Indonesia (535 Zona Musim) yang telah memasuki musim kemarau, serta sifat hujan yang mayoritas berada di bawah normal (87,28% wilayah).

3. Implikasi Kebijakan

  • Bapanas menyiapkan mitigasi menghadapi El Niño dengan penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). CBP mencapai 5,2 juta ton per 12 Agustus 2026 guna menghadapi El Niño kuat yang diproyeksikan terjadi musim kemarau lebih kering dan panjang pada Agustus-September 2026. Angka stok CBP ini naik 245,4% dibanding stok awal September 2023 (1,52 juta ton) menjelang puncak El Niño sebelumnya.
  • Gerakan Pangan Murah yang telah terlaksana 7.741 kali, penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan beras sebesar 652,6 ribu ton (78,83% dari target 828 ribu ton), serta penyaluran Bantuan Pangan berupa Beras Bulog kepada 33.244.408 Keluarga Penerima Manfaat.
  • Kementan menyiapkan Langkah Strategis Antisipasi Dampak Kemarau: optimalisasi irigasi (rehabilitasi jaringan, embung, sumur dangkal, pompanisasi, perpipaan), percepatan tanam varietas tahan kekeringan (Inpago 4-13, Inpari 38-46), pengaturan pola tanam sesuai iklim, serta penguatan koordinasi Pemda dan pemangku kepentingan.
  • Dukungan infrastruktur air 2026: 17.400 unit irigasi perpompaan, 3.500 unit irigasi perpipaan, 3.700 unit bangunan konservasi, 9.000 unit ketersediaan air, dan 57.303 unit pompa air.
  • Berdasarkan estimasi DEN dari perkembangan harga pangan yang dipantau dalam laporan ini, inflasi volatile foods (VF) Agustus 2026 diprakirakan menurun sekitar 0,5%, dengan pengurangan terhadap inflasi IHK sekitar 0,1%.

Share

Related Publications

View All Publications →