Economic Brief Jun 15, 2026

Pemantauan Harga Pangan Minggu Ke-2 Juni 2026

Pemantauan Harga Pangan Minggu Ke-2 Juni 2026

Authors

Gaffari Ramadhan

Executive Director for Economic Strategy and Policy

Co-Authors

Ahmad Adi Nugroho

Tenaga Ahli Madya

Artstein Dhimathera

Tenaga Terampil

1. Perkembangan Harga Pangan

  • Secara mingguan (WtW), harga beragam, dengan kenaikan tertinggi pada komoditas bawang putih (+8,9%), seluruh kualitas beras meningkat di kisaran 0,3% – 0,7%, dan minyak goreng kemasan meningkat sekitar 0,4% - 0,6%.
  • Secara bulanan (MtM), peningkatan tertinggi terjadi pada harga bawang merah (17,4%) dan cabai merah (10,2%).
  • Secara year-to-date (YtD), tekanan harga terakumulasi pada minyak goreng (curah: +11,4%; kemasan: +8,3% – 8,9%).
  • Secara tahunan (YoY), tekanan harga terbesar terjadi pada bawang merah, cabai rawit, dan cabai merah, masing-masing mengalami kenaikan sebesar 27,5%, 23,3%, dan 13,7%. Kenaikan harga lebih dari 5% juga terlihat pada harga minyak goreng dan daging sapi.

2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga

  • Pada Mei 2026, indeks harga beras Food and Agriculture Organization (FAO) naik 2,7% dibandingkan April, didorong oleh mengetatnya pasokan di sejumlah negara eksportir utama serta kekhawatiran pasar terhadap risiko cuaca yang dapat memengaruhi produksi pada musim tanam mendatang.
  • Harga BBM kembali dinaikkan pada 10 Juni 2026 sebagai penyesuaian terhadap kenaikan harga minyak global, terutama pada BBM nonsubsidi, dengan harga Pertamax dan Pertamax Green masing-masing melonjak 32,11% dan 31,78% (MtM).

3. Perkembangan Spasial

  • Secara spasial, tekanan harga paling tinggi terjadi di Provinsi Bali, khususnya pada komoditas bawang putih, yang meningkat sebesar 35,56% (WtW). Kenaikan ini dipengaruhi oleh kurangnya pasokan akibat kendala distribusi, dan pasokan dari impor yang terdampak oleh pelemahan Rupiah.

4. Implikasi Kebijakan

  • Ke depan, risiko inflasi perlu diwaspadai, terutama yang dipicu oleh dinamika geopolitik global serta potensi fenomena El Niño pada 2026.
  • Meskipun kesepakatan damai sudah dicapai oleh Iran dan AS, ketengangan dan tensi geopolitik di wilayah Timur Tengah masih tinggi.
  • Setelah penurunan harga minyak mentah global sekitar 5% sejak pengumuman kesepakatan, ada potensi penurunan harga BBM yang akan membantu meredam naiknya inflasi secara keseluruhan.
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September 2026, meliputi sebagian besar wilayah.
  • Untuk mengantisipasi musim kemarau yang lebih panjang, Pemerintah akan merevitalisasi waduk, perbaikan jaringan irigasi, dan menjaga kapasitas air untuk PLTA.
  • Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mempercepat distribusi beras SPHP dan Minyakita ke pasar rakyat untuk menstabilkan harga pangan.
  • Berdasarkan estimasi DEN, kenaikan harga pangan hingga minggu II Juni 2026 akan menyebabkan tambahan inflasi volatile foods (VF) sekitar 1,74%, dan tambahan ke inflasi IHK sebesar 0,3%.

Share

Related Publications

View All Publications →