Economic Brief Jul 22, 2026

Monetary Brief Juli 2026

Monetary Brief Juli 2026

Authors

Gaffari Ramadhan

Executive Director for Economic Strategy and Policy

Co-Authors

Kurniawati Yuli Ashari

Tenaga Ahli Madya

Muhamad Haikal

Tenaga Terampil

Farhannur

  1. BI-Rate dipertahankan sebesar 5,75% pada Juli 2026, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility tetap sebesar 6,50%. Kebijakan ini ditempuh untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah serta menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% hingga 2027.
  2. Nilai tukar Rupiah relatif stabil meskipun aliran modal asing masih terbatas. Rupiah tercatat sebesar Rp17.883/USD pada 21 Juli 2026, relatif stabil dibandingkan Rp17.882/USD pada akhir Juni 2026. Di pasar keuangan domestik, pasar saham dan SRBI masing-masing mencatatkan outflow sebesar Rp2,0 triliun dan Rp0,4 triliun (month-to-date/MtD), sementara pasar SBN mencatatkan inflow sebesar Rp1,9 triliun.
  3. Bank Indonesia terus memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui intervensi dan perluasan insentif untuk mendorong aliran masuk modal asing. Intervensi dilakukan melalui transaksi spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI meningkatkan insentif swap jual lindung nilai dari 10% menjadi 12,5%, memperluas insentif DNDF jual lindung nilai sebesar 15%, serta memberikan insentif transaksi Local Currency Transaction (LCT).
  4. Transmisi kenaikan BI-Rate sebelumnya berlanjut pada suku bunga pasar uang dan mulai tercermin pada suku bunga deposito. Suku bunga PUAB overnight (ON) meningkat menjadi 6,18% pada 21 Juli 2026, sedangkan suku bunga SRBI tenor 12 bulan turun 6 bps menjadi 7,64%. Yield SBN tenor 1 tahun dan 2 tahun masing-masing turun menjadi 7,03% dan 7,07%, sementara yield tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,29%, sehingga struktur yield curve kembali ternormalisasi. Suku bunga deposito satu bulan naik 50 bps menjadi 4,76% pada Juni 2026, sedangkan suku bunga kredit meningkat lebih terbatas menjadi 8,81%.
  5. Kredit bank umum tumbuh meningkat menjadi 12,7% (year-on-year/YoY) pada Juni 2026, dari 11,5% YoY pada Mei 2026. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kredit investasi dan kredit modal kerja yang masing-masing tumbuh sebesar 24,9% YoY dan 8,9% YoY, mencerminkan masih kuatnya kebutuhan pembiayaan kegiatan usaha. Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh sebesar 5,8% YoY.
  6. Likuiditas perbankan tetap memadai untuk mendukung penyaluran kredit. Rasio AL/DPK tercatat sebesar 23,08% pada Juni 2026. Penempatan perbankan pada instrumen Operasi Moneter BI meningkat sebesar Rp39,3 triliun secara bulanan menjadi Rp886,6 triliun pada 21 Juli 2026. Kepemilikan SBN oleh perbankan juga meningkat sekitar Rp107,0 triliun (MtD), sejalan dengan menurunnya transaksi repo, meskipun outstanding repo masih relatif tinggi.
  7. Ke depan, kebijakan moneter diprakirakan tetap bersifat pro-stability di tengah meningkatnya risiko global.Kenaikan suku bunga di sejumlah negara maju serta ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate berpotensi meningkatkan tekanan terhadap aliran modal dan nilai tukar negara berkembang. Oleh karena itu, BI diprakirakan tetap mengoptimalkan suku bunga kebijakan, intervensi valas, serta insentif lindung nilai untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Di sisi lain, kebijakan makroprudensial tetap diarahkan bersifat pro-growth guna mendukung pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi.

Share

Related Publications

View All Publications →