Economic Brief Aug 14, 2026

Laporan Inflasi Bulan Agustus 2026

Laporan Inflasi Bulan Agustus 2026

Authors

Gaffari Ramadhan

Executive Director for Economic Strategy and Policy

Co-Authors

Kurniawati Yuli Ashari

Tenaga Ahli Madya

Amanda A. Joesoef

Tenaga Ahli Muda

Artstein Dhimathera

Tenaga Terampil

1. Inflasi IHK turun menjadi 2,88% YoY pada Juli 2026, dari 3,34% YoY pada Juni 2026, masih berada pada rentang target 2,5%±1%.

2. Penurunan inflasi terutama disebabkan oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan seiring perbaikan pasokan.
  • Inflasi komponen bergejolak (Volatile Food/VF) melambat menjadi 2,52% YoY pada Juli 2026 dari 5,58% YoY pada Juni 2026, seiring meningkatnya produksi beberapa komoditas hortikultura.
  • Inflasi inti stabil pada 2,76% YoY pada Juli 2026 di tengah berlanjutnya kenaikan harga komoditas global yang tercermin dari Bloomberg Commodity Index yang naik sebesar 25,27% YoY.    
  • Inflasi komponen harga diatur Pemerintah (Administered Prices/AP) naik menjadi 3,58% YoY pada Juli 2026 dari 3,42% YoY pada Juni 2026, terutama didorong oleh masih tingginya harga energi domestik sejalan dengan harga energi global.
3. Secara spasial, seluruh provinsi mengalami inflasi, tertinggi terjadi di Provinsi Papua Barat dengan inflasi sebesar 5,47% YoY.

4. Inflasi Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) melambat menjadi 5,66% YoY, dari 6,51% YoY pada bulan sebelumnya. Seluruh komponen IHPB mengalami penurunan kecuali sektor produk logam, mesin, dan perlengkapan.

5. Kenaikan harga di level pedagang besar turut didorong oleh naiknya harga di level produsen di mana inflasi Indeks Harga Produsen (IHP) naik menjadi 5,62% YoY pada Tw. II 2026, dari 3,15% YoY pada Tw. I 2026.

6. Ke depan, masih tingginya harga komoditas global serta potensi El Niño perlu diantisipasi dampaknya terhadap inflasi.
  • Harga komoditas global diprakirakan mulai turun, namun tetap tinggi dibandingkan harga tahun sebelumnya.
  • BMKG memprakirakan jumlah wilayah Indonesia yang diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah (0-10 mm) sekitar 71,55% pada Agustus 2026 dan semakin meluas pada September 2026 menjadi 77,46%, yang berisiko menekan produksi padi dan komoditas hortikultura.
7.⁠ ⁠Sejumlah kebijakan dan antisipasi telah ditempuh Pemerintah untuk meminimalisir dampak El Nino.
Bank Indonesia mempertahankan tingkat BI-Rate pada level 5,75%, setelah sebelumnya naik masing-masing sebesar 25 bps pada RDG 9 Juni dan 17-18 Juni 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan turut menjaga inflasi tetap dalam rentang target.Bapanas memperkuat stabilisasi harga pangan melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), serta memastikan ketersediaan stok pangan nasional aman hingga akhir 2026.
  • Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menjalankan strategi tiga tahap antisipasi-adaptasi-mitigasi.
Koordinasi lintas lembaga juga terus diperkuat untuk memitigasi kekeringan di sejumlah daerah. Koordinasi dilakukan antara Kementan, BMKG, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), salah satunya dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Share

Related Publications

View All Publications →