1. Perkembangan Harga Pangan
- Secara bulanan (MtM), harga aneka cabai melanjutkan tren kenaikan. Harga cabai merah dan cabai rawit masing-masing meningkat 35,1% dan 15,2% MtM. Kenaikan IPH cabai merah meluas di 314 kabupaten/kota (87,2% wilayah), sementara kenaikan cabai rawit terjadi di 268 kabupaten/kota (74,4% wilayah). Penyebab utamanya adalah menipisnya pasokan akibat produksi turun dan panen hanya mengandalkan tanaman lama karena tanaman baru belum berbuah.
- Secara tahunan (YoY), tekanan harga tertinggi terjadi pada cabai rawit (99,5% YoY) dan cabai merah (39,7% YoY). Peningkatan harga cabai bersumber dari gangguan produksi karena cuaca dan biaya logistik, serta panjangnya rantai distribusi ke daerah luar Jawa.
- Harga daging ayam ras meningkat 8,7% YoY dan masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) (Rp41.350/kg vs. Rp40.000/kg).
- Harga daging sapi bertahan tinggi sebesar Rp149.050/kg, atau meningkat 8,6% YoY.
- Harga minyak goreng meningkat 9,5% YoY di tengah harga CPO yang turun 3,2% YoY, sehingga penurunan harga CPO belum tertransmisi ke harga minyak goreng domestik.
2. Faktor Utama Pendorong Pergerakan Harga
- Dari sisi global, harga minyak mentah Brent naik menjadi USD104,7 per barel pada 9 Oktober 2026 (2,4% WtW), seiring tensi geopolitik antara AS dan Timur Tengah yang meningkat, serta disrupsi pasokan akibat penghentian produksi di Teluk Meksiko akibat Badai Tropis Isaias.
- Dari sisi domestik, BMKG menyatakan El Niño dengan intensitas sangat kuat masih bertahan, sementara Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut mengurangi pasokan uap air ke Indonesia bagian barat.
- Selain itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu diantisipasi. Jumlah titik panas pada 6–12 Oktober 2026 mencapai sekitar 144 ribu titik (naik 18% WtW), terkonsentrasi di Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Sumatera Selatan.
3. Implikasi Kebijakan
- Cabai rawit merah resmi dimasukkan ke dalam daftar komoditas yang memerlukan intervensi khusus. Guna menjaga ketersediaan pasokan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan petani Champion merancang pelaksanaan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) cabai ke Sulawesi Utara, Kabupaten Minahasa, serta Kabupaten Halmahera Utara.
- Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus diakselerasi. Setelah pemenuhan target SPHP beras sebanyak 828 ribu ton per 23 September 2026, penyaluran periode 1 Oktober–20 November 2026 telah terealisasi 33,5 ribu ton (45,2% dari target 74 ribu ton) per 8 Oktober 2026. Sementara itu, distribusi SPHP jagung sudah menembus 190,4 ribu ton atau setara 78,9% dari target per 9 Oktober 2026.
- Berdasarkan laporan Bapanas per akhir September 2026, realisasi impor gula industri dan bawang putih masing-masing telah mencapai 82,6% dan 63% dari penetapan neraca komoditas. Sementara itu, impor daging lembu (sapi dan kerbau) baru mencapai 54,7% dan jagung bahan baku industri 51,6%. Percepatan realisasi impor daging dan jagung menjadi penting untuk menahan tekanan harga daging sapi dan harga jagung, termasuk untuk pakan.
- Berdasarkan estimasi DEN, perkembangan harga pangan yang dipantau dalam laporan ini diprakirakan akan menyebabkan peningkatan inflasi volatile food (VF) Oktober 2026 sekitar 2,3 poin persentase (ppt), dengan peningkatan inflasi IHK sekitar 0,4 ppt.
Terima kasih.